Banyak murid kelas 5 dan 6 kesulitan membayangkan apa artinya membagi satu pecahan dengan pecahan lain. Alat di halaman ini menunjukkan prosesnya secara visual, langkah demi langkah, memakai batang pecahan (bar model) yang biasa dipakai dalam pembelajaran matematika Kurikulum Merdeka.
Halaman ini juga memuat penjelasan konsep, lima contoh soal beserta pembahasan, kumpulan kesalahan umum siswa, dan panduan memakai media ini di kelas — siap dipakai untuk menyusun RPP, modul ajar, atau LKPD.
Apa Itu Pembagian Pecahan?
Pembagian pecahan pada dasarnya menjawab satu pertanyaan: ada berapa banyak pecahan pembagi yang muat di dalam pecahan yang dibagi? Cara berpikir ini disebut model pengukuran (measurement model), dan itulah yang divisualisasikan oleh alat ini memakai batang pecahan (bar model).
Contoh resmi dari buku Matematika Kelas 6 Kurikulum Merdeka (Dicky Susanto dkk., Kemdikbudristek, 2022): Sinta punya 4 meter pita yang dipotong menjadi bagian sepanjang 1/5 meter. Berapa banyak potongan yang didapat Sinta? Jawabannya: 4 ÷ 1/5 = 20 potongan. Karena menggambar 20 potongan penuh melebihi batas gambar alat ini (maksimal 12 potongan), alat ini akan menampilkan pesan "angka terlalu besar untuk digambar" — tapi rumus dan hasil akhirnya (20) tetap ditampilkan seperti contoh di bawah ini. Cara berpikirnya sama dengan lima contoh soal lain di halaman ini.
Berbeda dengan perkalian pecahan yang biasa dijelaskan lewat model luas (area model), pembagian pecahan lebih mudah dipahami lewat batang pecahan — murid langsung melihat berapa kali pembagi "masuk" ke pecahan yang dibagi, sama seperti membagi sepotong kue atau semangka.
Kalau satu pembagi ternyata lebih besar daripada pecahan yang dibagi, ia belum genap masuk satu kali. Contohnya 1/3 ÷ 1/2: satu pembagi (1/2) lebih besar daripada 1/3, jadi yang terisi baru sebagiannya saja, tepatnya 2/3 dari satu pembagi — dan angka itulah jawabannya, 1/3 ÷ 1/2 = 2/3. Alat ini sengaja tidak memakai kata "sisa" di kasus seperti ini, karena tidak ada satu pembagi penuh pun yang sudah diambil sebelumnya.
Khusus kalau pembaginya bilangan asli (misalnya 3/4 ÷ 2), alat ini berpindah ke cara gambar yang berbeda, yaitu membagi sama rata — lihat bagian Cara Mengerjakan Pembagian Pecahan dengan Bilangan Asli di bawah.
Angkanya terlalu besar untuk digambar. Coba angka yang lebih kecil.
Cara Menghitung Pembagian Pecahan Langkah demi Langkah
Alat di atas menampilkan enam langkah yang bisa diklik satu per satu atau diputar otomatis dengan tombol Putar Animasi. Contoh bawaan memakai soal 3/4 ÷ 1/4 karena hasilnya bulat (3) tanpa sisa, sehingga murid bisa melihat dulu kasus paling sederhana sebelum masuk ke soal yang bersisa.
Langkah 0 menunjukkan satu bagian utuh sebagai patokan. Langkah 1 menandai pecahan yang dibagi dengan mengarsir sebagian batang. Langkah 2 menyiapkan pembagi sebagai batang kedua. Langkah 3 adalah langkah inti: pembagi digeser di sepanjang bagian yang diarsir untuk menghitung ada berapa banyak yang muat. Langkah 4 menunjukkan cara formalnya — mengalikan dengan kebalikan pembagi. Langkah 5 menampilkan hasil bagi, baik pecahan biasa maupun pecahan campuran.
Kalau pembaginya bilangan asli (penyebutnya ditulis 1, misalnya 2/1), langkah 2 dan 3 berganti gambar: tidak ada batang pembagi kedua, melainkan bagian yang diarsir dipotong mendatar menjadi beberapa bagian sama besar lalu satu bagian disorot sebagai jawabannya. Jumlah langkahnya tetap enam, dan hasil hitungnya tetap sama.
Guru bisa mengganti empat angka pada kotak input, menekan tombol Hitung dan Visualisasikan, lalu membagikan soal itu ke murid lewat tautan, kode QR, atau file GIF/PNG.
Cara Mengerjakan Pembagian Pecahan dengan Bilangan Asli
Capaian Pembelajaran (CP) Fase C Kurikulum Merdeka mewajibkan murid kelas 5 dan 6 bisa "melakukan operasi perkalian dan pembagian pecahan dengan bilangan asli". Bilangan asli dalam konteks ini adalah bilangan bulat positif (1, 2, 3, dan seterusnya) yang dipakai sebagai pembagi. Secara definisi matematika yang ketat, bilangan asli tidak menyertakan nol — himpunan yang menyertakan nol (0, 1, 2, 3, dan seterusnya) disebut bilangan cacah, istilah yang dipakai Khan Academy versi Indonesia untuk materi yang sama. Sebagian bahan ajar lama juga memakai istilah bilangan bulat untuk kelompok angka ini.
Membagi dengan bilangan asli paling mudah dibaca sebagai membagi sama rata: bagian yang sudah diarsir dipotong lagi menjadi beberapa bagian sama besar, lalu diambil satu bagian. Karena itulah, saat penyebut pembagi ditulis 1 (misalnya 2/1), alat ini otomatis berpindah ke gambar pembagian sama rata: tidak ada batang pembagi kedua, yang ada adalah bagian yang diarsir dipotong mendatar menjadi beberapa bagian sama besar.
Contohnya 3/4 ÷ 2. Batang dibagi 4 bagian sama besar dan 3 bagian diarsir. Lalu bagian yang diarsir itu dipotong mendatar menjadi 2 bagian sama besar, dan satu bagian itulah jawabannya: 3/8. Inilah alasan "dibagi 2" sama artinya dengan "dikali 1/2" — memotong sesuatu menjadi 2 bagian sama besar dan mengambil satu bagian memang berarti mengambil setengahnya. Secara rumus: 3/4 ÷ 2 = 3/4 × 1/2 = 3/8.
Kalau soalnya ditulis sebagai pecahan biasa (misalnya 3/4 ÷ 4/2, yang nilainya juga sama dengan dibagi 2), alat ini kembali memakai gambar batang pembagi seperti pada soal pecahan dibagi pecahan. Dua cara gambar itu saling melengkapi dan hasilnya selalu sama.
Cara Membagi Pecahan Campuran
Pecahan campuran seperti 1 1/2 atau 3 1/4 tidak bisa langsung dimasukkan ke kotak angka pada alat ini. Langkah wajib pertama: ubah menjadi pecahan biasa — kalikan bilangan bulat dengan penyebut, tambahkan pembilangnya, lalu tulis di atas penyebut yang sama. Misalnya 1 1/2 menjadi (1×2+1)/2 = 3/2.
Setelah dalam bentuk pecahan biasa, pembagiannya dikerjakan seperti contoh lain di halaman ini. Contoh soal ke-5 di bawah, 3/2 ÷ 1/4, memakai 1 1/2 yang diubah menjadi 3/2 — hasilnya 6, dan gambarnya butuh dua batang utuh berjejer.
Guru bisa menekankan langkah ini berulang di kelas — banyak murid lupa dan langsung membagi bagian bulat dan pecahannya secara terpisah, yang hasilnya salah.
Mengapa Pembagian Pecahan Bisa Diubah Menjadi Perkalian?
Trik "dibalik lalu dikali" sering diajarkan sebagai langkah yang harus dihafal, padahal ada alasan matematis yang bisa dijelaskan dengan model pengukuran yang sama seperti pada visualisasi di halaman ini.
Membagi dengan c/d artinya bertanya: ada berapa banyak satuan sebesar c/d di dalam pecahan yang dibagi? Ini seperti mengganti satuan pengukuran — mengukur panjang pita dalam satuan c/d meter, bukan meter penuh. Karena satu batang utuh berisi tepat d/c satuan c/d (kebalikan dari c/d), mengalikan pecahan yang dibagi dengan d/c sama saja dengan menghitung ulang ke satuan "satu pembagi".
Secara aljabar, a/b ÷ c/d sama dengan (a/b) × (d/c), karena mengalikan pembilang dan penyebut dengan angka yang sama tidak mengubah nilai pecahan. "Dibalik lalu dikali" adalah versi pendek yang mudah diingat murid. Kebalikan hanya berlaku untuk pembagi, bukan pecahan yang dibagi — kesalahan paling umum di kelas adalah murid membalik pecahan yang salah.
5 Contoh Soal Pembagian Pecahan Kelas 6 dan Jawabannya
Lima soal berikut sudah dihitung ulang dan dicocokkan dengan hasil alat ini, aman dipakai untuk latihan kelas 6 atau contoh LKPD. Setiap soal punya tautan yang langsung membuka visualisasinya di atas.
Ibu Guru punya 3/4 loyang kue, dibagikan dalam potongan berukuran 1/2 loyang. Berapa potongan penuh yang bisa dibuat, dan berapa sisanya?
- Pecahan yang dibagi: 3/4. Pembagi: 1/2.
- 3/4 ÷ 1/2 = 3/4 × 2/1 (kalikan dengan kebalikan pembagi)
- = 6/4 = 1 2/4 = 1 1/2 (setelah disederhanakan)
- Jadi ada 1 potongan penuh berukuran 1/2 loyang, dan sisa 1/2 dari satu pembagi.
1 1/2
Contoh dasar dengan sisa: sisa 1/2 dari satu pembagi sama dengan bagian pecahan pada jawaban akhir (1/2 pada 1 1/2).
3/4 ÷ 1/2 = 1 1/2Sinta punya 2/3 meter pita dan memotongnya menjadi bagian-bagian sepanjang 1/6 meter. Berapa banyak potongan yang didapat Sinta?
- Pecahan yang dibagi: 2/3. Pembagi: 1/6.
- 2/3 ÷ 1/6 = 2/3 × 6/1
- = 12/3 = 4
- Karena hasilnya bulat, tidak ada sisa — pembagi pas memenuhi pecahan yang dibagi sebanyak 4 kali.
4
Contoh pembagian yang habis (tanpa sisa): berguna untuk menunjukkan kasus paling sederhana sebelum masuk ke soal yang bersisa.
2/3 ÷ 1/6 = 4Sepotong semangka seberat 5/6 kg dibagi menjadi potongan seberat 2/3 kg. Berapa potongan penuh yang didapat, dan berapa sisanya?
- Pecahan yang dibagi: 5/6. Pembagi: 2/3.
- 5/6 ÷ 2/3 = 5/6 × 3/2
- = 15/12 = 1 3/12 = 1 1/4 (setelah disederhanakan)
- Jadi ada 1 potongan penuh seberat 2/3 kg, dan sisa 1/4 dari satu pembagi.
1 1/4
Sisa 1/4 dari satu pembagi sama persis dengan bagian pecahan pada jawaban akhir (1/4 pada 1 1/4) — inilah yang membuat batang pecahan meyakinkan secara visual.
5/6 ÷ 2/3 = 1 1/4Ibu punya 3/4 kg gula dan ingin membaginya sama rata ke dalam 2 kantong. Berapa berat gula di setiap kantong?
- Pecahan yang dibagi: 3/4. Pembaginya bilangan asli 2, jadi soal ini dikerjakan dengan membagi sama rata.
- Bagi batang menjadi 4 bagian sama besar, lalu arsir 3 bagian → 3/4.
- Potong bagian yang diarsir itu menjadi 2 bagian sama besar, lalu ambil 1 bagian.
- 3/4 ÷ 2 = 3/4 × 1/2 = 3/8 kg di setiap kantong.
3/8
Model pembagian sama rata (membagi dengan bilangan asli): memotong bagian yang diarsir menjadi 2 bagian sama besar lalu mengambil satu bagian — di situlah murid melihat sendiri kenapa "dibagi 2" sama dengan "dikali 1/2".
3/4 ÷ 2/1 = 3/8Sebuah kue seberat 1 1/2 loyang akan dibagi menjadi potongan seberat 1/4 loyang. Berapa banyak potongan yang bisa dibuat?
- Ubah pecahan campuran 1 1/2 menjadi pecahan biasa dulu: 1 1/2 = 3/2.
- Pecahan yang dibagi: 3/2. Pembagi: 1/4.
- 3/2 ÷ 1/4 = 3/2 × 4/1
- = 12/2 = 6
- Karena pecahan yang dibagi (3/2) lebih besar dari 1 bagian utuh, gambarnya membutuhkan 2 batang utuh berjejer supaya semua bagian yang diarsir kelihatan.
6
Menekankan langkah wajib "ubah ke pecahan biasa dulu", dan menunjukkan dua batang utuh saat pecahan yang dibagi lebih dari 1.
3/2 ÷ 1/4 = 6
Kesalahan Umum Siswa dalam Pembagian Pecahan
Berikut empat kesalahan yang paling sering ditemukan guru kelas 5 dan 6 saat murid mengerjakan pembagian pecahan.
- Membalik pecahan yang salah. Aturan "dibalik lalu dikali" hanya berlaku untuk pembagi, bukan pecahan yang dibagi. Murid yang keliru menulis a/b ÷ c/d sebagai b/a × c/d — jawabannya jadi terbalik.
- Lupa menyederhanakan hasil akhir. Banyak murid berhenti di pecahan yang belum disederhanakan, misalnya menjawab 6/4 padahal seharusnya 3/2 atau 1 1/2.
- Menganggap sisa sebagai pecahan dari keseluruhan, bukan dari satu pembagi. Sisa pada langkah 3 selalu dihitung sebagai pecahan dari satu pembagi, bukan pecahan dari batang utuh — alat ini sengaja menuliskan label "dari satu pembagi" pada setiap sisa. Untuk hasil bagi kurang dari 1 (misalnya 1/3 ÷ 1/2), alat ini tidak memakai kata sisa: labelnya langsung 2/3 dari satu pembagi, dan itulah jawabannya.
- Tidak mengubah pecahan campuran menjadi pecahan biasa dulu. Saat soalnya 1 1/2 ÷ 1/4, murid sering langsung membagi bagian bulat dan pecahannya terpisah (lihat Cara Membagi Pecahan Campuran di atas).
Cara Menggunakan Media Pembelajaran Ini di Kelas (RPP, Modul Ajar, LKPD)
Alat ini bisa langsung dipakai dalam perencanaan pembelajaran, baik dalam bentuk RPP klasik maupun modul ajar Kurikulum Merdeka — sekolah boleh memilih salah satu. Sekolah yang sudah memakai pendekatan pembelajaran mendalam bisa memanfaatkan visualisasi ini di dokumen RPM (Rencana Pembelajaran Mendalam).
Di kelas dengan proyektor, aktifkan Mode Layar Penuh supaya enam langkah terbaca dari bangku belakang. Gunakan Sebelumnya/Berikutnya untuk membahas langkah demi langkah, atau Putar Animasi kalau ingin prosesnya mengalir otomatis.
Untuk LKPD (Lembar Kerja Peserta Didik), unduh gambar sebagai PNG lalu tempelkan ke dokumen. GIF lebih cocok dibagikan lewat grup WhatsApp kelas. Setiap soal juga punya kode QR sendiri, cocok ditampilkan di proyektor untuk latihan mandiri.
Pembagian Pecahan Desimal
Murid kelas 6 juga perlu mengenal pembagian pecahan desimal — misalnya 0,75 ÷ 0,5. Caranya: ubah dulu kedua bilangan desimal menjadi pecahan biasa (0,75 menjadi 3/4, 0,5 menjadi 1/2), lalu kerjakan seperti biasa. Hasil 3/4 ÷ 1/2 = 1 1/2, kalau diubah kembali ke desimal menjadi 1,5.
Alat ini belum menerima input desimal langsung — masukkan pecahan biasa saja (3/4, bukan 0,75). Ingat, penulisan desimal di Indonesia memakai tanda koma (0,75), bukan titik (0.75). Kesalahan paling umum: lupa mengubah desimal menjadi pecahan dulu sebelum dibagi.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Berikut pertanyaan yang paling sering ditanyakan guru dan murid seputar pembagian pecahan.
Apa itu pembagi dalam pembagian pecahan?
Pembagi adalah pecahan kedua, yaitu pecahan yang dijadikan patokan untuk mengukur berapa kali ia muat di dalam pecahan yang dibagi. Misalnya pada 3/4 ÷ 1/2, pembagi adalah 1/2.
Kenapa hasil bagi pecahan bisa lebih besar dari pecahan yang dibagi?
Karena membagi dengan pecahan lebih kecil dari 1 sama dengan mengalikan dengan bilangan lebih besar dari 1 — semakin kecil pembaginya, semakin besar hasil baginya.
Apa bedanya sisa pada pembagian pecahan dengan sisa pada pembagian bilangan bulat?
Pada pembagian pecahan, sisa dituliskan sebagai pecahan dari satu pembagi — bukan pecahan dari keseluruhan batang utuh. Lihat bagian Kesalahan Umum Siswa di atas.
Kenapa gambarnya berbeda saat pembaginya bilangan asli?
Karena membagi dengan bilangan asli lebih mudah dibaca sebagai membagi sama rata: bagian yang diarsir dipotong menjadi beberapa bagian sama besar, lalu diambil satu bagian. Itulah cara yang dipakai buku pelajaran untuk pembagian pecahan dengan bilangan asli, dan itu pula yang membuat "dibagi 2" terlihat sama dengan "dikali 1/2". Untuk pecahan dibagi pecahan, alat ini tetap memakai batang pembagi. Hasil hitungnya sama, hanya gambarnya yang berbeda.
Bagaimana cara membagi pecahan campuran?
Ubah dulu pecahan campuran menjadi pecahan biasa, baru kerjakan pembagiannya seperti pecahan biasa lainnya. Lihat bagian Cara Membagi Pecahan Campuran di atas.
Apakah alat ini bisa dipakai untuk pembagian pecahan desimal?
Belum langsung. Ubah dulu bilangan desimal menjadi pecahan biasa (misalnya 0,75 menjadi 3/4), lalu masukkan ke alat ini.
Untuk kelas berapa materi pembagian pecahan ini?
Pembagian pecahan dengan bilangan asli termasuk Capaian Pembelajaran wajib Fase C (kelas 5 dan 6), sedangkan pecahan dibagi pecahan merupakan materi pengayaan yang biasanya diperkenalkan di kelas 6 sesuai Kurikulum Merdeka.